Belajar dari Sabar Gorky – Resensi Buku

Judul : Sabar Gorky; Satu kaki daki Gunung tertinggil    

Penulis : Dodi Mawardi
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Cetakan : 1 2014
Tebal : 155 Halaman
ISBN : 978-602-02-4092-3

Peresensi: Ahmad Wiyono*

Keterbatasan fisik manusia bagi sebagian orang kadang menjadi kendala hidup, bahkan acap kali dimaknai menjadi sebuah “kehinaan”, sehingga tak jarang seseorang yang hidup dalam kekurangan fisik kerap dimarginalkan dalam kehidupan sehari hari.
Namun demikian, hal itu tidak kemudian berlaku untuk semua orang, masih banyak manusia yang hidup dalam keterbatasan fisik, namun juga bisa berbuat seperti halnya orang kebanyakan, bahkan kadang melebihi apa yang dilakukan oleh orang normal pada umumnya.
Kita tentu mengakui jika ada orang normal secara fisik kemudian dia memainkan piano dengan lihai, maka hal itu menjadi sesuatu yang biasa, karena kedua tangannya lengkap, kemudia fisik lainnya juga ada, akan tetapi menjadi sangat luar biasa ketika kita menyaksikan ada anak manusia yang kebetulan hanya memiliki satu tangan kemudia dia mampu memainkan piano sama persis dengan manusia yang memiliki tangan lengkap.
Kalau kita ingat Presiden ke 4 RI Alamarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dikalangan ulama beliau dikenal sebagai seseorang yang memiliki keterbatasan fisik, karena penglihatan beliau yang agak terganggu, namun siapa yang bisa menyangka seorang Gus Dur akhirnya menjadi orang nomor satu di negeri ini.
Adalah Sabar Gorky, seorang warga solo yang belakangan kita tahu menjadi manusia hebat karena mampu menaklukkan beberapa gunung tertinggi dengan satu kaki yang dimilikinya, ini mengartikan bahwa keterbatasan fisik yang dialami Sabar bukan lantas menjadi rintangan untuk mewujudkan cita-citanya.
Buku True Story (kisah Nyata) yang dirangkum oleh Dodi Mawardi ini menyajikan fragmen kehidupan seorang sabar dalam menjelajahi kehidupannya sehingga bisa menjadi orang pertama dengan kondisi keterbatasan fisik yang mendaki gunung tertinggi tersebut.
Memang sulit dipercaya secara nalar, seorang yang hanya memiliki satu kaki mana mungkin mampu mendaki gunung dengan ketinggian yang luar biasa itu, tapi itulah fakta yang telah diukir oleh seorang Sabar, Gunung Elbrus di Rusia, gunung Kilimanjaro di Afrika telah ia taklukkan dengan satu kakinya.
Barangkali, Tekad kuat dan cita cita yang telah ia bangun sejak kecil itulah yang mampu mengantarkannya menjadi pendaki hebat, karena memang, sabar sudah menggeluti dunia pendakian sejak masih kecil. Sabar mulai menyukai panjat memanjat setelah duduk di bangku SMP, yaitu di SMP Purnama 1 Solo. Teman temannya mulai lebih banyak, dan sudah mulai suka mencoba coba. (hlm. 7).
Sejak saat itulah Sabar mulai giat berlatih dunia panjat memanjat tentu bersama teman temannya, seorang sabar kecil waktu itu masih hidup dalam kondisi normal. Sehingga ia semakin yakin bahwa cicta citanya akan mampu ia raih dikemudian hari, tentu dengan tekad dan perjuangan yang kuat.
Namun, siapa yang bisa menerka takdir, seorang sabar yang notabeni adalah orang Normal pada akhirnya harus berubah status menjadi orang cacat, takdir jua yang telah memaksanaya menjadi manusia yang kehilangan satu kaki kanannya di usianya yang masih muda, yah itulah takdir.
Saat itu tanggal 5 April 1990, tepat pukul 14.30 WIB, Stasiun Karawang menjadi saksi tragedi yang mengenaskan itu (hlm. 21).
Peristiwa mengenaskan itu terjadi saat Sabar turun dari kereta karena hendak membeli air minum, namun tiba tiba kereta itu akan berangkat, dan sabar hendak mengejarnya, namun lagi lagi siapa yang bisa menerka takdir, Sabar malah terjatuh dan kaki kananya terseret kurang lebih 20 meter. Dan itulah awal mula kehidupan baru sabar yang berbuntut hilangnya satu kaki kanannya.
Namun demikian, bukan sabar namanya, jika ia lantas harus menyerah pada takdir, meski sempat didera trauma dan pesimisme, namun pada akhirnya Sabar bisa menunjukkan kelebihannya ditengah keterbatasan fisiknya. Persis di Hari Ulang Tahun (HUT) RI 17 Agustus 2011 dia bisa memberikan kado yang sangat istimewa yaitu mengibarkan bendera Merah Putih di puncak gunung Elbrus.  Tak berlibah jika buku ini diberi judul “Satu kaki Daki Gunung Tertinggi”.
Dengan prestasinya tersebut, Sabar akhirnya mampu menjadi perhatian Dunia, tak sedikit tokoh tokoh mengapresiasi keberhasilan sabar tersebut, salah satunya disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo (saat itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta), “Sabar Gorky adalah sosok yang ulet dan optimis, dia tidak hanya mampu menginspirasi rekan rekan sesama disabilitas, tapi juga masyarakat normal lainnya” (Joko widodo).
Pelajaran penting yang bisa diambil dari pejalanan sabar yang telah komplit terangkum pada buku setebal 155 halaman ini adalah bahwa setiap Manusia selalu memiliki kesempatan untuk meraih apa yang dia impikan, termasuk oleh penyandang disbilitas bisa juga melakukan apa yang dilakukan oleh orang normal lainnya, maka jangan sekali kalai hina mereka.
Untuk membentuk kekuatan fisik, tidak bisa diperoleh secara instan. Siapa pun dia, baik orang Normal maupun cacat, harus melewati proses berkeseimbangan agar fisiknya menjadi lebih kuat. Latihan fisik harus dilakukan secara bertahap dan terus menerus untuk mendapatkan hasil yang maksimal (hlm. 142). Buku ini sungguh menginspirasi.

 

Ahmad wiyono; Jurnalis, Pengajar, Peneliti dan pengasuh Rumah Baca “Haidar Pustaka” Pamekasan Madura

Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura Edisi Kamis 20 Nopember 2014

Sorry, comments are closed for this post.