Dodi Mawardi Pencetus Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Dikutip dari www.ciputraentrepreneurship.com dan www.kontan.co.id

 

Sejak kecil, aktivitas menulis telah lekat dalam kehidupan manusia sehari-hari. Tak heran, menulis pun menjadi aktivitas kreatif yang digemari banyak orang, entah itu sebagai hobi, aktualisasi diri, bahkan menjadikannya sebagai profesi utama.

Namun, apa pun tujuannya, kegiatan menulis tetap perlu untuk terus dikembangkan. Salah satu cara mengasahnya adalah dengan mengikuti kelas menulis.

Bagi banyak orang yang tidak memiliki banyak waktu atau lantaran kendala jarak, mengikuti kelas menulis online bisa menjadi pilihan mengembangkan kemampuan menulis. Apalagi, belakangan internet semakin gampang diakses.

Tak heran, banyak orang yang berkecimpung di dunia tulis menulis menangkap peluang ini. Salah satunya adalah Dodi Mawardi.

 

Pria 38 tahun yang telah menerbitkan sekitar 50 buku ini sudah mengenal dunia tulis menulis sejak tahun 2006. Kemudian, ia memutuskan untuk membuka workshop pada tahun 2007. Namun, baru pada tahun 2009, Dodi merintis Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) di Jakarta.

Awalnya, SMKI membuka kelas tatap muka bagi para pesertanya. Akan tetapi, dalam perkembangannya, Dodi memutuskan untuk melatih peserta melalui dunia maya.

 

Pasalnya ternyata, “Peminat menulis tidak hanya di Jabodetabek, tapi juga di luar Jawa, bahkan luar negeri. Karena itu, saya putuskan untuk membuka kelas online,” ujarnya seperti dilansir Kontan.co.id.

Dodi pernah melatih peserta dari Medan, Balikpapan, Makassar, Kuala Lumpur, dan Angola. SMKI membuka kelas penulisan non-fiksi dan fiksi, seperti novel dan cerpen. Adapun, materi yang diberikan mencakup tahap-tahap menulis, persiapan atau modal penulis, dan self-editing.

 

SMKI juga memberikan tips untuk menembus penerbit. Bahkan, SMKI juga membantu peserta kelas hingga karya mereka terbit.

Dodi mengklaim, banyak peserta lulusan SMKI kini menghasilkan karya tulis yang sudah diterbitkan oleh beberapa penerbit terkemuka. Di antaranya adalah “Magnet Cinta” oleh Ermalen Dewita (Gramedia) dan “Malaikat Cinta” oleh Jonih Rahmat (Gramedia).

Dodi bilang, salah satu kelebihan SMKI adalah setiap peserta kelas dibimbing secara privat oleh seorang mentor. “Peserta benar-benar dibimbing dari awal hingga bukunya diterbitkan, oleh mentor,” tuturnya.

 

SMKI memberikan paket belajar satu bulan, dua bulan, tiga bulan, dan paket menjadi satu buku. SKMI mematok tarif Rp mulai Rp 750.000 – Rp 2,5 juta untuk setiap peserta. Dalam sebulan, SMKI menerima sekitar lima peserta.

Dodi mengaku, SMKI mengantongi omzet minimal Rp 20 juta saban bulan. Sementara, laba bersihnya bisa mencapai 90%. Biaya operasionalnya ringan karena tak perlu biaya sewa ruangan belajar seperti kelas.

 

Menurut Dodi, profesi menulis memiliki peluang menjanjikan di Indonesia. Meskipun masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, ternyata potensi di bidang penulisan sebagai mata pencaharian terbuka lebar. Makanya, SMKI tak pernah sepi peserta. (as)

Sorry, comments are closed for this post.