ghost-writer (1)

Beda Jasa Ghost Writer dan Co Writer

Dikutip dari www.detikata.com

Penulis: Bambang Trim

Dengan penambahan gambar, dan penyuntingan minim.

 

Ghost Writer (GW)

Sesuai dengan namanya, ghost writer memang bekerja layaknya “hantu”–samar dan tak terlihat. Umumnya dalam sebuah proyek penulisan, nama GW memang tidak disebutkan. Hasil kerja mereka memang dikreditkan atas nama orang lain yang merekrut mereka. Pada beberapa kasus nama mereka disebutkan, contohnya di kover buku ada kata berikut: Seperti yang dikisahkan Muhammad Arief kepada Bambang Trim. Ada juga yang namanya disebutkan di dalam ucapan terima kasih (acknowledgement) sebagai apresiasi yang dilakukan penulis atau penerbit.


GW bekerja mengerahkan banyak kemampuan, seperti meriset, mewawancarai narasumber, dan menuliskan hasilnya sesuai dengan deadline yang ditetapkan. Karena itu, umumnya GW memang dibayar mahal dengan tarif di atas karya tulis kebanyakan. GW di luar negeri biasa dibayar per kata dan ada juga yang dibayar per jam kerja hingga proyek selesai. Di Indonesia umumnya GW dibayar per halaman atau per proyek dengan harga terkadang setara dengan satu buah mobil.
Tidak pelak seorang GW memang harus memiliki kompetensi berikut ini: 1) menguasai bahasa Indonesia dengan baik, termasuk bahasa Inggris; 2) mampu menulis dengan cepat dan tepat; 3) menguasai kemampuan jurnalistik, khususnya wawancara narasumber dan menggali fakta; 4) mampu berkomunikasi dengan baik; 5) terampil menyunting naskah; 6) memiliki wawasan tentang dunia penerbitan yang memadai; 7) menguasai teknologi, terutama internet; 8) menguasai penulisan sastra.

Jasa GW sering digunakan para selebritas, politikus, pengusaha untuk menuliskan autobiografi mereka, artikel di koran atau majalah, serta materi-materi tulisan lainnya seperti pidato. Jadi, GW membantu seseorang atau lembaga untuk menuliskan berbagai produk karya tulis, seperti

  • buku: autobiografi, biografi, nonfiksi
  • teks pidato
  • artikel/feature/esai
  • konten web/blog dalam bentuk artikel/feature/esai
  • syair lagu

Tentulah tidak umum jika ada seseorang meminta GW mengerjakan sebuah novel dan mengkreditkan atas namanya. Jadi, pada kategori ranah fiksi (novel), GW tidak melakukannya. Contoh kasus ketika Tasaro GK menuliskan novel berbasis buku 7 Keajaiban Rezeki karya Ippho Santosa, nama Tasaro GK tetap ditampilkan sebagai pengarang novel tersebut.

GW umumnya juga bekerja one man show alias sendirian. Kalaupun ada yang membantu, itu sebatas asisten untuk melakukan riset, fotografi, ataupun menginput hasil-hasil wawancara ke dalam tulisan. Tokoh GW yang sangat terkenal di Indonesia seperti Alberthiene Endah dan Her Suharyanto.

Ada pertanyaan yang kerap mengganjal: Apakah GW ini legal? Apakah penggunaan GW tidak menjadi semacam bentuk penipuan ke publik? Ya, jawabannya legal karena antara GW dan kliennya terikat perjanjian secara profesional. GW hanya menuliskan gagasan-gagasan klien yang punya keterbatasan  soal menulis dan untuk itulah ia dibayar. Jika seseorang yang punya gagasan brilian, tetapi tidak bisa menulis, sah-sah saja ia merekrut seseorang untuk membantunya. Bagaimana jika tidak ada GW? Tentu gagasan seseorang yang tidak bisa menulis tadi akan mubazir. Walaupun demikian, memang ada ranah-ranah tertentu yang tidak dimasuki GW, misalnya membuatkan skripsi, tesis, disertasi untuk mahasiswa yang ingin lulus. Kalau ada yang menawarkan jasa itu, mereka bukanlah GW, lebih tepatnya PSK alias penulis skripsi komersial.

Anda yang ingin menggunakan jasa ghost writer dalam penulisan buku tentu sudah harus menyiapkan budget yang agak tinggi dibandingkan dengan layanan lainnya seperti layanan rewriting (penulisan ulang) ataupun editing.

Co-Writer (CW)

Co-writer atau co-author (penulis pendamping) adalah penulis yang memosisikan diri sebagai penulis kedua setelah penulis pertama yang memiliki ide. Umumnya para pemilik ide (author) memang seseorang yang tidak mampu menulis atau tidak memiliki cukup waktu untuk menulis sehingga ia merekrut seorang penulis pendamping. Penulis pendamping biasanya berasal dari kalangan jurnalis ataupun editor yang piawai menulis sehingga terjadilah kolaborasi yang baik.

Jack Canfield sangat awet berpasangan dengan  Mark Victor Hansen sebagai co-writer-nya untuk menulis kumpulan kisah Chicken Soup. Begitu juga Kenneth H. Blanchard menggandeng Spencer Johnson untuk menulis One Minute Manager. Di Indonesia nama seperti Sofie Beatrix sering menjadi CW untuk beberapa orang trainer dan motivator seperti Jamil Azzaini serta Ali Akbar. Selain itu, ada juga nama Dodi Mawardi sebagai spesialis CW para pengusaha/pembicara.

Jadi, hubungan antara pemilik gagasan dan CW memang lebih intens dalam penggarapan karya bersama dan kesepakatan mereka umumnya dalam bentuk pembagian royalti. (BT)

 

Leave a comment