Manajemen ‘Gila’ ala Bob Sadino – Resensi Buku

Judul buku       : Belajar Goblok Dari Bob Sadino

Penulis               : Dodi Mawardi

Penerbit             : Jakarta : Kintamani Publishing

Tgl terbit           : Desember 2009   

Tebal buku       : 154 halaman

Jenis                   : Ilmu pengetahuan

 

Penulis Resensi: Retno Astrini

 

Dodi Mawardi memulai karir menulisnya pada 1996 dengan menjadi peenulis atau wartawan paruh waktu pada harian Replubika. Karir menulisnya berlanjut hingga tahun 2006 dengan menjadi editor sejumlah buku dan juga berkolaborasi dengan sejumlah pengusaha dalam menulis buku. Kini Dodi mengembangkan diri menjadi konsultan dan pengajar penulisan di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia serta dosen di FISIP Universitas Indonesia dan Stikom Interstudi.

 

Buah pena Dodi Mawardi ini berisi cara Bob Sadino, seorang intrepeneur senior yang sukses menjalankan usahanya dengan menggunakan cara dan sudut pandang yang luar biasa. Prinsip-prinsip dasar bisnis yang digunakan Om Bob mematahkan ilmu ekonomi yang pernah ada. Om Bob, begitu ia sering di panggil, memang pernah mengenyam bangku sekolahan, tapi semua usahanya tidak pernah dilandasi oleh teori keilmuan. Ia memulai segalanya dari jalanan bukan sekolahan. Dia tidak menghadapi segala masalah dengan senjata teori, melainkan dengan praktik, praktik dan praktik.

Menurut pakar, salah satu unsur manajemen adalah perencanaan. Tapi bagi Om Bob rencana sama dengan bencana. Sejumlah pakar mengatakan tidak mungkin seseorang akan berhasil tanpa perencanaan. Om Bob dengan segala keunikannya, sukses menjungkirbalikkan teori para pakar. Tidak plan A, plan B, plan C dst. Yang ada hanyalah sejuta kemungkinan jika kondisi X yang terjadi, maka  A lah aksinya, kalau situasi Y yang terjadi, maka B lah yang harus dilakukan. Begitu seterusnya tanpa batas.

Salah unsur pokok manajemen yang lain adalah evaluasi. Om Bob tidak pernah meminta laporan kepada anak buahnya entah itu laporan keuangan atau sejenisnya. Bahkan karyawannya diberikan kesempatan untuk berpendapat, jika perusahaan untung. Apakah keuntungannya dibagi-bagi, dihabiskan atau diinvestasikan kembali. Luar biasa!! Bagaimana mungkin seorang pemilik usaha dengan skala besar, tidak pernah meminta laporan dari anak buahnya tentang kinerja perusahaan? Tidak masuk akal! Tapi justru yang tidak masuk akal, aneh, unik dan sejenisnyalah yang menjadi ciri khas sang Begawan. Sekali lagi ia menjungkir balikkan teori.

Dalam hal merekrut karyawan, Om Bob yang memulai usahanya awal tahun 1970 ini tak pernah merekrut orang yang ada hubungan darah dengannya. Ia menyebutnya sebagai Family Style Management With No Kinship Relation’s.  sebuah manajemen kekeluargaan tanpa hubungan darah sekalipun. Om Bob sengaja membatasi keluarganya ikut campur dalam perusahaan, apalagi menjadi bagian perusahaan. Ia berkeyakinan, manajemen semacam ini akam menghindarkan keluarga dari keretakan. Diluar itu semua, untuk mendapat tenaga kerja yang mengisi berbagai posisi di perusahaanya, ia merekrut pegawai dengan cara ‘jalanan’ yang tak pernah mempertimbangkan latar belakang pendidikan. yang terpenting adalah mau bekerja dan belajar. untuk penempatan posisi jabatan, semuanya ditentukan oleh para karyawanya sendiri. Lho kok bisa?? Disinilah letak kehebatan manajemen sumber daya manusia ala Bob Sadino.

“Mau berhasil?? Carilah kegagalan sebanyak-banyaknya.” Kalimat tersebut merupakan cuplikan ungkapan dari Om Bob tentang mencari rugi dalam berbisnis. Itulah yang sesungguhnya .jika kita ingin berhasil ya carilah kegagalan sebanyak-banyaknya. Karena sukses itu hanyalah sebuah titik di puncak segunung kegagalan. Kebanyakan orang menghindari kegagalan. Hukum ekonomi pun menyebutkan, resiko sekecil-kecilnya untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Padahal semakin banyak kegagalan, justru membuat kemungkinan untuk berhasil kian besar. Tanpa kegagalan tidak mungkin ada keberhasilan.

Semakin banyak kegagalan, akan semakin banyak pertanyaan yang muncul darinya, ‘kenapa gagal’. Tentu karena semakin banyak kegagalan, akan semakin banyak pula jawabanya. Jawaban itu nantinya akan menjadi inputan baru untuk kita, dalam melangkah kebih jauh. Yang terpenting adalah setelah gagal harus terus melangkah. Kegagalan sesungguhnya adlah ketika kita berhenti. Kesimpulannya, kalau kita mau sukses atau berhasil, cari kegagalan, cari kesedihan, cari air mata itu. Success is a dot on the top of tears.

Banyak manfaat yang dapat di ambil dari buku ini, diantaranya kita menjadi lebih mengenal pribadi seorang Bob Sadino, interpreneur dengan pemikiran yang sarat kesederhanaan. Dibalik kesederhanaan Om Bob terkandung kekuatan dahsyat untuk mendorong kita menjadi seorang intrepreneur handal kelak. Sepak terjang Om Bob, patut disimak seperti terangkum dalam buku ini.

Buku yang dipenuhi oleh potret diri Bob Sadino ini begitu sarat akan kelebihan, sehingga sejauh ini, menurut saya buku ini tidak memiliki kekurangan.

Setelah membaca buku ini, saya dapat menyimpulkan bahwa untuk menjadi seorang intrepreneur sukses tidak harus mengenyam bangku kuliahan, kuncinya adalah niat dan action !!

Sorry, comments are closed for this post.