”Selamat siang pak, apa kabar? Semoga baik-baik saja. Saya senang bisa berkenalan dengan bapak. Selain menjadi produser, saya juga mengajar penulisan naskah di UI. Jika bapak berniat membuat tulisan atau buku, boleh juga saya editori…”

 

Kira-kira itulah sepenggal email yang saya kirim kepada seorang pengusaha akhir  2005 lalu, yang baru saya kenal melalui wawancara di PAS FM – sebuah radio bisnis. Waktu itu, saya masih menjabat sebagai produser di radio tersebut. Email itu sebenarnya merupakan sebuah upaya saya untuk menjaga jalinan pertemanan, agar semakin kuat. Tidak hanya saya kirim kepada satu orang, melainkan kepada hampir semua teman pengusaha/eksekutif yang baru saya kenal.

 

Tapi beberapa bulan kemudian, justru email itulah yang menjadi cikal bakal saya terjun ke bidang penulisan buku. Sang pengusaha tersebut ternyata memang rajin menulis – saya sama sekali tidak tahu sebelumnya. Lalu, tulisan-tulisannya diminati oleh sebuah penerbitan. Singkat cerita, pengusaha itu mengirimkan draft bukunya kepada penerbit tersebut. Sayang, editor di penerbitan itu sulit memahami isi buku karena bahasanya dianggap kurang mengalir. Dia meminta sang pengusaha untuk merombak draft-nya.

 

Sang pengusaha – Goenardjoadi Goenawan – kelimpungan untuk mengubah naskah tersebut. Tapi kemudian dia mengingat saya berkat email tadi. Saya pun mengubah naskah itu dan menyerahkannya kembali kepada penerbit. Hasilnya? Alhamdulilah naskah itu layak terbit. Buat saya, pengalaman tersebut sangat berkesan, karena itulah pertama kali nama saya muncul dalam sebuah buku – meski hanya sebagai editor. Tapi editor istimewa, karena foto saya muncul juga. Setahu saya, jarang-jarang penulis memasukkan foto editor ke dalam bukunya.

 

Dari situlah saya berpikir keras… ”Ternyata, saya masih bisa menulis!” Sebelum terjun di bidang radio, saya adalah wartawan lepas harian Republika. Lumayan banyak karya saya yang sudah terbit, dalam rentang waktu 1996 – 1998. Tapi karena kemudian hijrah ke radio, kebiasan menulis menjadi berkurang drastis. Memang masih menulis, tapi kuantitasnya jauh berkurang. Naskah di radio relatif lebih pendek dibanding naskah media cetak.

============================================================================

Menjadi Penulis Pendamping

Tidak lama setelah buku yang saya editori terbit, saya mulai melirik industri tulis menulis buku. Sebuah bidang yang belakangan saya ketahui sangat mengasyikan. Benar kata rekan pengusaha yang lain, bahwa dunia di luar sana, ternyata lebih luas dan lebih menantang dibanding dunia sempit tempat kita bekerja. Tanpa butuh banyak waktu, saya pun mampu meluncurkan sebuah buku kolaborasi bersama Dr. Ir. Wahyu Saidi – pemilik Bakmi Langgara berjudul ”Bermitra dengan Radio Perbesar Bisnis Anda.”  Sedangkan bersama Goenardjoadi Goenawan, nama saya muncul sebagai editor pada 7 judul buku, seperti ”Menjadi Kaya Dengan Hati Nurani”, ”Memasarkan dengan Hati”, dan ”Pelangi Kehidupan Entrepreneur.”

 

Setelah mengamati bidang penulisan, mulai dari penulis mandiri sampai penulisan kolaborasi, akhirnya saya menyimpulkan: Saya bisa hidup dari menulis. Caranya? Saya harus menemukan ’blue ocean’. Kepala saya hanya satu, tidak mungkin memiliki terlalu banyak ide. Sebanyak-banyaknya ide satu kepala, tetap akan kalah banyak dibanding 2 kepala. Padahal, buku butuh banyak ide. Lagi pula, saya bergerak di bidang penulisan non fiksi, sehingga materi buku yang ditulis menjadi lebih terbatas lagi, jika saya hanya mengandalkan kemampuan pribadi.

 

Dengan berbagai pertimbangan itu, maka saya memutuskan keluar dari jabatan produser dari PAS FM dan sepenuhnya menjadi penulis. Bukan hanya sebagai penulis mandiri, melainkan juga menjalin kerja sama dengan pihak lain. Saya membantu siapapun yang ingin memiliki buku, untuk menulis bersama. Kebetulan, saya punya jaringan rekan pengusaha dan eksekutif perusahaan kecil – menengah – besar. Merekalah yang akan menjadi mitra saya dalam menulis. Saya pikir, penulis pendamping atau co writer bisa menjadi strategi tepat untuk saya dalam menjalani profesi menulis. Bidang ini masih termasuk blue ocean, karena masih jarang pelakunya. Kalaupun ada, tidak seratus persen berkiprah.

 

Ternyata pilihan tersebut tidak keliru. Tidak butuh waktu lama, beberapa orang sudah menjadi mitra saya dalam menulis. I Nyoman Londen – pengusaha burger misalnya. Kami mampu menelurkan tiga buah buku yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo seperti ”Virus Anti Gagal Inspirasi Bisnis” dan ”Orang Bodoh Lebih Cepat Sukses.” Hasil dari penulisan tersebut, saya mendapatkan royalti plus 3 buah gerobak burger lengkap dengan perangkat jualannya.

 

Dengan Wahyu Saidi pun, saya berkolaborasi dalam 3 buku. Lalu, bersama pilot Qatar Airways, saya menghasilkan buku panduan keselamatan terbang buat penumpang – ”Fasten Your Seatbelt.” Tahun 2008, saya pun mampu menelurkan sebuah buku tentang penjualan dan pemasaran, ”Sales Kaya Sales Miskin”. Lagi-lagi saya sebagai co writer untuk seorang sales jempolan Ketua Umum Asosiasi Real Estat Broker Indonesia – Tirta Setiawan.

 

Dalam tempo kurang dari 2 tahun, nama saya sudah tercantum di sampul depan 15 buku. Melihat fakta tersebut, saya semakin yakin bahwa dunia menulis buku adalah panggilan jiwa yang selama ini saya cari. Saya menikmati proses menulis dan menikmati kolaborasi bersama banyak pihak dengan tema beragam. Latar belakang sebagai wartawan, sangat membantu adaptasi saya dalam menggarap beragam tema tersebut.

========================================================================

Bisnis Menulis Buku Menggiurkan

Saya terinspirasi oleh Gregorius Agung – pemilik Jubilee Entreprise – yang bergerak di bidang penulisan buku. Agung hanya menghasilkan buku komputer sebagai produk utama perusahaannya. Naskah tersebut lalu dikirim ke penerbit, dan Jubilee mendapatkan royalti. Dengan cara itu, Jubilee bisa hidup dan bahkan menghidupi 11 orang penulis. Hanya dari menulis buku, mereka membuktikan bisa HIDUP. Kalau Jubilee bisa, kenapa saya tidak?

 

Menilik makin banyaknya orang ’sibuk’ yang ingin menulis buku, saya kira peluang di bidang ini sangat terbuka. Dan saya merekrut penulis-penulis muda untuk bergabung menjadi co writer dalam tim saya. Kami menyiapkan segalanya, untuk membantu para orang sibuk yang berniat menulis buku. Trendnya terus meningkat. Tahun 2006 saya baru mendapatkan 2 orang mitra, 2007 bertambah menjadi 4 orang. Dan pada 2008, jumlahnya akan meningkat lebih dari 2 kali lipatnya. Tentu saja, tenaga saya terbatas untuk memenuhi permintaan kemitraan, sehingga perlu bantuan tenaga lain. Jubilee Enterprise menjadi role model yang layak ditiru.

 

Jika Jubilee, lebih banyak mengandalkan hasil royalti dari penerbitan karena semua karya mereka diserahkan ke penerbit, maka saya tidak demikian. Saya lebih banyak mengandalkan mitra. Meski masih tetap mendapatkan royalti. Untuk sebuah buku, seorang mitra harus membayar sekian rupiah sabagai upah jasa penulisan yang saya kerjakan. Tapi tidak mutlak seperti itu, karena ada juga mitra yang sepakat berbagi royalti.

================================================================

Blue Ocean yang Lain

Di samping menjadikan penulis pendamping sebagai strategi meraih pangsa pasar, saya juga memiliki strategi lain yang juga termasuk blue ocean. Selama ini, penerbit/penulis lebih banyak mengandalkan toko buku sebagai ujung tombak penjualan. Boleh dikatakan hampir 99% berlaku demikian. Padahal, masyarakat yang mau dan mampu memasuki toko buku, jumlahnya jauh lebih kecil dibanding yang tidak mau dan tidak mampu.

 

Apakah pasar potensial buku hanya di toko buku? Tidak! Semua lapisan masyarakat adalah pasar yang potensial. Banyak sahabat yang pesimis dengan kondisi pasar buku di Indonesia, berdasarkan kebiasaan membaca dan mengunjungi toko buku. Indonesia termasuk dalam kategori renah minat baca. Tapi buat saya, justru kondisi tersebut menjadi tantangan besar dan sangat potensial. Tinggal bagaimana pelaku industri buku menyiasatinya.

 

Penerbit buku pendidikan anak TIRA, dengan sangat cerdas memasarkan buku secara langsung tanpa melalui toko. Mereka mengandalkan tenaga penjual perorangan yang mendekati calon pelanggannya secara personal. Dengan harga jual yang lebih tinggi dibanding buku sejenisnya, TIRA sukses dan eksis sampai sekarang. Buku mereka bisa masuk ke rumah-rumah kelas menengah dan menengah atas.

 

Penerbit lain yang bergerak di sektor ensiklopedia, juga melakukan strategi serupa. Mereka tidak menjadikan toko buku sebagai ujung tombak. Mereka justru merekrut dan melatih belasan sampai puluhan sales person, yang bertugas menjajakan buku ensiklopedinya. Dengan cara tersebut, sejumlah penerbitan jenis ini bisa eksis sampai sekarang. Pasar ternyata masih mau menyerap produk dan cara penertasi semacam itu.

 

Saya? Saya pun tidak mau tinggal diam dan hanya menonton mereka. Meski masih relatif kecil dibanding toko buku, non toko buku ternyata lebih luas pasarnya.  Silahkan lihat stadion sepakbola! Ketika kompetisi bergulir, puluhan ribu orang berkumpul di sana setiap pekan. Bukankah mereka pasar yang sangat potensial? Di stadion yang sama, juga kerap terjadi pengumpulan massa seperti lewat konser musik. Lagi-lagi pasar yang potensial.

 

Lalu di terminal, stasiun kereta, bandar udara dan lain sebagainya. Saya sudah membuktikan kepotensialan berbagai tempat tersebut, melalui dua buku. Pertama, ”1001 Cerita Seru di KRL”, yang saya cetak khusus untuk dijual di atas gerbong KRL Jabotabek. Sukses… Kedua, buku ”Fenomena Masjid Kubah Emas” saya cetak khusus untuk disebarkan di sekitar Masjid Kubah Emas Depok dan tempat-tempat ibadah. Hasilnya? Lumayan. Kita – pelaku industri buku – harus lebih aktif menjemput bola.

 

Ini juga menjelaskan kenapa buku-buku karya para pembicara terkenal lebih laris dibanding yang lain. Buku karya mereka selain tersebar melalui toko buku, juga mengalir lewat seminar-seminar mereka. Para pembicara – sekaligus penulis – tersebut, secara terang-terangan menjajakan bukunya kepada para peser ta seminar.

=================================================================

Bermimpi Menulis 1000 Judul Buku

Meski sangat sibuk membantu orang lain menulis – sampai Mei 2008 ini sedang menggarap 8 buku lagi untuk 5 orang berbeda –  saya pun tetap menulis sendiri. Sampai Mei 2008, saya sudah menghasilkan 4 buku karya sendiri yaitu ”Lulus Kuliah Cari Kerja? Kuno!”, ”1001 Cerita Seru di KRL”, dan ”Fenomena Masjid Kubah Emas”, serta ”Belajar Goblok dari Bob Sadino.” Buat saya buku-buku karya sendiri tersebut menjadi bukti khususnya buat mitra dan calon mitra, bahwa saya memang bisa menulis buku. Bahkan saya bermimpi akan mampu menghasilkan 1000 judul buku.

 

Ya, seribu judul buku. Mungkinkah? Insya Allah. Melihat kinerja dalam 3 tahun ini, upaya menuju ke sana sudah berada pada jalur yang benar. Selain menulis buku sendiri, saya juga berkolaborasi dengan banyak orang. Target saya, untuk setiap satu mitra, minimal harus menghasilkan 3 buku. Secara matematika, saya hanya membutuhkan 300 mitra saja sehingga membuahkan 900 judul buku. Sisanya 100 lagi? Jatah untuk buku saya sendiri.

 

Adakah diantara Anda yang mau bekerja sama menulis buku?

 

Dodi Mawardi, Mei 2008

Leave a comment